Minggu, 01 April 2012

Facebook ku Bukan Facebook Biasa : PART 2

Kalau sebelumnya kita membahas tentang inovasi di dalam Facebook. Sekarang kita akan mencoba berkenalan dengan innovativeness dan hubungannya dengan kategori adopter. Mungkin kalian akan bertanya-tanya, "Wah baru lagi tuh ? apa sih innovativeness ? trus apa hubungannya dengan kategori adopter." Eitss... Tenang saja jangan galau :p Saya akan mencoba menjelaskan tentang hal-hal tersebut.
 
Menurut E.Roger "Innovativeness is the degree to which an Individual or other on it of adoption is relatively earlier in adopting new ideas than other member of a system" Jadi, innovativeness adalah dejarat di mana seseorang atau sekelompok orang relatif dapat menerima ide-ide baru (inovasi) dengan cepat daripada orang lainnya.

Trus ada hubungannya gitu dengan Kategori Adopter ? Masa sih ?

Oh itu jelas ada dong, Seperti yang di katakan Roger diatas innovativeness adalah dejarat di mana seseorang atau sekelompok orang relatif dapat menerima ide-ide baru (inovasi) dengan cepat daripada orang lainnya.
Nah, karena kemampuan untuk menerima inovasi berbeda-beda maka adopter (penerima inovasi) di bagi-bagi kedalam sebuah pembagian, dan pembagian itu di sebutlah Kategori Adopter.

Dan menurut Roger, kategori adopter terbagi menjadi 5 yaitu :

http://studimedia2010.blogspot.com/2010/03/diffusion-of-innovations-theory_25.html

1. Innovators : Individu yang pertama kali mengadopsi inovasi. Cirinya : Petualanag, berani mengambil resiko, mobile, cerdas, kemampuan ekonomi tinggi. Jumlahnya di masyarakat sekitar 2,5%.
2. Early Adopters : Menjadi perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya : Para teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati. Jumlahnya di masyarakat sekitar 13,5%.
3. Early Majority : Menjadi pengikut awal. Cirinya : penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi. Jumlahnya di masyarakat sekitar 34%.
4. Late Majority : Menjadi pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya : Skeptis, menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan sosial, dan terlalu berhati-hati. Jumlahnya di masyarakat sekitar 34%.
5. Laggards : Yang terakhir adalah kaum kolot dan tradisional. Cirinya : tradisional, terisolasi, wawasan terbatas, bukan opinion leaders, sumber daya terbatas. Jumlahnya di masyarakat sekitar 16%
 
Berkaitan dengan penjelasan di atas, Grup facebook DIP TPNR 2010 membuat sebuah survei untuk para anggotanya. Dan saya pun termasuk ke dalam survei tersebut. Survei di awali dengan pertanyaan "Apakah hubungan innovativeness dengan kategori adopter dan sebagai lulusan TP (teknologi pendidikan) nanti, kalian termasuk pada kategori adopter yang mana ?" Dari pertanyaan tersebut didapatkanlah hasil sebagai berikut :
 
Tabel 1
 
Dari 39 anggota grup yang menjawab survey berjumlah 34 orang sedangkan yang tidak menjawab berjumlah 5 orang.
  
 

Grafik di atas merupakan penggambaran dari tabel 1

Tabel 2

 Dari 34 orang yang menjawab survey, didapatkan data sebagai berikut :
1. 5 Orang memasukkan dirinya ke dalam kategori Innovator
2. 9 Orang memasukkan dirinya ke dalam kategori Early Adopter
3. 8 Orang memasukkan dirinya ke dalam kategori Early Majority
4. 2 Orang memasukkan dirinya ke dalam kategori Late Majority
5. Tidak seorang pun memasukkan dirinya ke dalam kategori Laggard
6. 4 Orang memasukkan dirinya ke dalam kategori Early Adopter dan Early Majority
7. 2 Orang memasukkan dirinya ke dalam kategori Early Majority dan Late Majority
8. dan 4 orang lainnya tidak memasukkan dirinya ke dalam kategori adopter mana pun.


Grafik di atas merupakan penggambaran dari tabel 2

Dari grafik diatas kita dapat melihat bahwa para anggota  di Grup DIP TPNR 2010 memasukkan dirinya kedalam kategori adopter yang berbeda-beda, namun saya melihat pada dasarnya sebagian besar teman-teman ingin menjadi seorang Innovator. Perbedaan yang terlihat di grafik terjadi mungkin karena anggota di Grup DIP TPNR 2010 memposisikan dirinya pada keadaannya saat ini bukan pada saat lulus nanti. Dan jika melihat jawaban mereka sebenarnya ada alasan-alasan yang mendasari mereka untuk memposisikan diri  mereka ke dalam kategori adopter yang berbeda. Namun, karena alasannya terlalu beragam dan luas maka saya tidak mengelompokkan tersebut. Selain itu, ada kekhawatiran jika saya mengelompokkan alasan teman-teman maka akan ada penyempitan alasan mengapa seseorang masuk ke dalam kategori adopter tertentu.

Penutup  
Innovativeness adalah derajat atau kemampuan di mana seseorang atau sekelompok orang relatif dapat menerima ide-ide baru (inovasi) dengan cepat daripada orang lainnya. Karena kemampuan orang untuk menerima inovasi bersifat relatif maka terbentuklah kategori adopter.

Dari hasil survey Grup DIP TPNR 2010 di dapatkan kesimpulan bahwa pada dasarnya sebagian besar teman-teman termasuk saya ingin menjadi seorang innovator. Mungkin keadaan saat ini belum memungkinkan saya menjadi seorang Innovator tapi sebagai seorang teknolog pendidikan dan lelaki yang akan mengubah dunia :p tentunya saya akan terus berusaha dan berdoa :D. Menjadi seorang innovator seperti mencari sebuah jawaban, seperti lirik lagu cahaya bulan.

"Cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yang takkan pernah aku tau dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati"

Akhir kata, semoga bermanfaat dan jika ada salah kata mohon di maafkan :)

Sumber data : klik
Sumber bacaan : 
Rogers, Everett. M, 1995, Diffusions of Innovations, Forth Edition. New York: TreePress.
                         


 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan